“ Pak, Prof.Djatun ingin bicara dengan Anda,” demikian sebuah catatan kecil saya terima ketika sedang mengajar di kelas. Maka, pada siang itu, saya pun asyik dalam perbincangan dengan Pak Djatun. Di ruangannya yang penuh buku, di lantai tiga sebelah sudut, hening dan beraroma cerutu, dihiasi puluhan peti kardus dengan berbagai label – nama-nama kelompok data dan arsip – pernak pernik kecil vandel, thumbstone penghargaan dari mana-mana dan lantunan lagu klasik. Saya suka klasik dan tahu klasik; tetapi koleksi Pak Djatun itu tidak dapat saya tahu gubahan siapa – masih relatif baru rupanya pengetahuan saya untuk itu dibanding beliau ini.
“ Win, ayo kita dorong dan majukan kegiatan olah raga mahasiswa di UI dan FEUI ini. Banyak lho alumni-alumni kita yang dahulu sangat dikenal dan berprestasi di bidang olah raga. Kita bisa aktifkan lagi, tennis, squash, hockey, renang, basket dlsb. Senior-senior FEUI concern lho sama pengembangan dan kejayaan FEUI di bidang olah raga,” begitulah Prof.Djatun mengawali pembicaraan. Tentu saja sederet kata-kata Djatun (begitu beliau lebih akrab disebut oleh berbagai kalangan tua-muda, tanpa embel-embel atribut gelar), menggetarkan saya. Terbayang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar apa yang diucapkan; terasa ada dorongan kuat di belakang ajakan itu. Saya sadar, kali ini sedang bincang-bincang dengan Djatun yang sudah berjalan jauh, jauh…sekali. Kalau dahulu, 24 tahun lalu, ketika jadi asistennya saya bicara dengan Djatun setengah umur. Kali ini, saya berbincang dengan Prof.Djatun, yang belum lama menjadi Menko Perekonomian, mantan dekan, dengan sederet pengalaman tak terkejar oleh sembarang orang. Saya tergetar, karena saya ingin benar-benar mengapresiasi niat Djatun untuk almamater kita ini.
Maka saya sambut, ”Siap Pak,” demikian cepat saya menjawab, karena sadar di sebuah sekolah besar, mimpi harus besar dan gagasan harus besar. Soal bagaimana merealisasikannya, marilah kita usahakan bersama. Memang, agaknya sudah lama kita pun pernah mendengar bahwa kegiatan rekreatif, prestatif atau konten humaniora lainnya tidak dapat dibiarkan begitu saja dalam proses pengembangan SDM. Kegiatan semacam itu, niscaya akan membawa manfaat kesegaran dan mendorong kreativitas berpikir kepada para mahasiswa kita dalam perkuliahan mau pun mengupas dan ikut andil dalam perkembangan pemikiran untuk memecahkan permasalahan bangsa. Dengan memiliki saluran pelepasan enerji yang sehat dalam bidang olah raga kompetitif dan rekreatif, kiranya mahasiswa kita dapat lebih berkonsentrasi untuk tetap menjadi kekuatan sosial kontrol masyarakat, namun dengan cara-cara khas mahasiswa yang ber-kelas, berharkat.
Sudah lama, putaran kompetisi olah raga antar kampus di Indonesia tidak terlalu hidup dan terdengar gemanya. Sudah lama, kita tidak mendengar team olah raga mahasiswa FEUI berkunjung ke mancanegara, bertanding; entah menang atau kalah. Kita juga tahu bahwa melekat pada ciri keterdidikan seseorang adalah prestasinya atau hobinya di bidang seni atau olah raga. Kegiatan seni dan olah raga terasa kurang membahana di FEUI. Lihat saja acara First Folklore Festival, 19 April lalu sepi hadirin, sekali pun sangat memikat dan bernilai tinggi. Ke arah mana orientasi kita ya ?
Kelak, ketika menjadi pejabat atau high rank officials di pemerintahan atau swasta, maka salah satu sarana berdialognya adalah pertemuan sambil bermain tenis, golf dlsb. Pertemuan dengan mahasiswa kampus lain, atau mahasiswa manca negara di ajang olah raga atau seni tentunya dapat menjadi alat ukur daya saing, satu terhadap yang lain, bagi para calon pemimpin bangsa itu sejak dini. Mengejar ketertinggalan ketika sudah jadi pegawai, tentu waktunya sudah lebih sedikit dan enerjinya tinggal tersisa berupa kenangan saja. Tidak heran kalau teman saya, seorang direktur pelabuhan mengeluhkan betapa utusan RI sering tidak siap, terbawa permainan gendang lawan ketika sedang berunding soal batas dan pengelolaan perairan bersama dengan negara tetangga. Tidak heran kalau ujung tombak diplomasi kita di Deplu dikenal tumpul dan kurang membuat terobosan untuk negaranya. Paracalon pemimpin kita harus mengukur mitranya dari negara lain sejak masih mahasiswa.
Pikiran di atas itulah yang ada dibenak ketika mendengar ajakan Djatun. Ada yang lebih dalam dari sekadar mendorong olah raga mahasiswa FEUI hanya untuk mengisi daftar kegiatan. Maka saya bilang, ”Siap Pak.” Kemudian hari itu juga, Djatun mengkontak Rusman Efendi, alumni kita di BI, yang dikenal sebagai olahragawannya kampus. Pertemuan lanjutan pun dirancang untuk diadakan di ”kubu”nya Kang Gunaevi, alumni FEUI yang terkenal royal dalam berbuat baik untuk almamater. ”Rusman sudah mendaftar 15 nama alumni untuk diajak ikut menghidupkan olah raga kampus lagi. Dana dan sponsor nanti kita cari bersama, ” demikian kata Djatun. Tentu tidak begitu saja dapat terealisasi, tetapi sudah lama kita kurang optimistik, termasuk dalam bermimpi sekali pun.
FEUI kampus besar, sekolah besar dan , alhamdulillah, senantiasa melahirkan orang besar. Kita, di FEUI, ingin keluar dari tempurung dan mengajak orang keluar dari tempurung. Kita bukanlah katak dalam tempurung. Kita tidak mau mengembangkan olah raga hanya berdasarkan minat dan sarana yang ada. Olah raga adalah sarana berkomunikasi, karenanya kita harus juga cari tahu dan mengembangkan jenis-jenis olah raga lain yang hidup di luar tempurung kecil kita di Depok ini. ”Kita hidupkan sepeda lintas alam, lokasinya ada, track-nya bisa bagus, dan pensiunan pegawai kita yang menjalankan usahanya, ” demikian Djatun bermimpi. Saya suka, kita suka. Mimpi harus kreatif. Go, go, FEUI !
April 2006
* Deputi Dekan Bid.Kerjasama dan Hubungan Alumni